Ekonomi Indonesia 2026: Mesin Kuat, Rem Blong?

GDP naik terus, tapi gaji riil malah turun. Utang makin besar, pajak makin seret. Fitch dan Moody’s sudah kasih lampu kuning. Sebenarnya kondisi kita separah apa, sih?


Kalau kamu baca berita ekonomi Indonesia belakangan ini, pasti bingung. Di satu sisi, pemerintah bilang ekonomi kita tumbuh 5,11%, FDI (Foreign Direct Investment) naik, surplus perdagangan melonjak. Di sisi lain, Fitch dan Moody’s menurunkan outlook kita ke negatif, IHSG anjlok, rupiah tembus rekor terlemah sepanjang sejarah. Jadi yang bener yang mana?

Jawabannya: dua-duanya bener. Dan justru itu yang bikin situasinya rumit.

Saya coba bedah datanya satu per satu, pakai beberapa data bahkan ada yang dari tahun 1985, supaya kita bisa lihat tren-nya dengan jelas. Bukan cuma angka tahun ini aja yang seringkali menyesatkan kalau dilihat secara terisolasi.


Yang Bagus: Mesin Ekonomi Memang Jalan

Harus fair, ada banyak hal yang genuinely positif soal ekonomi Indonesia sekarang. Ini bukan propaganda pemerintah karena datanya memang mendukung.

GDP Q4 2025 tumbuh 5,39%, ini yang tercepat sejak Q3 2022. Full year 2025 di 5,11%. Di saat Eropa hampir stagnan dan ekonomi global melambat, angka ini lumayan banget. IMF sendiri memproyeksikan pertumbuhan tetap di 5,0-5,1% sampai 2026-2027.

FDI masuk $13,67 miliar di Q1 2025, naik 12,7% YoY. Yang menarik, sektor smelter nikel jadi magnet investasi, ini buah dari kebijakan larangan ekspor ore mentah yang sekarang mulai kelihatan hasilnya. Manufaktur tumbuh 5,68% di Q2, yang terbaik sejak 2011. Surplus perdagangan melonjak 195% YoY.

Inflasi terjaga di 2,5-3%. Cadangan devisa $154,6 miliar. Perbankan sehat dengan CET1 (Common Equity Tier 1) ratio yang mengukur kemampuan bank menyerap kerugian saat krisis di 18-29%. Demografi kita masih oke banget dengan median umur 30 tahun, 280 juta lebih populasi. Ekonomi digital terbesar di ASEAN.

Takeaway

Mesin ekonominya jalan. GDP, FDI, manufaktur, surplus perdagangan. Semuanya menunjukkan ekonomi yang genuinely tumbuh. Tapi pertanyaan yang lebih penting: siapa yang nikmatin pertumbuhan ini?


GDP Naik, Gaji Turun: Paradoks yang Bikin Gerah

Nah, ini bagian yang jarang dibahas media mainstream. Coba kita lihat pertumbuhan GDP di Indonesia kualitasnya bagaimana.

World Bank merilis laporan yang cukup mengejutkan di Desember 2025: antara 2018 dan 2024, gaji riil pekerja Indonesia TURUN rata-rata 1,1% per tahun. Baca lagi: turun. Selama 6 tahun berturut-turut. Padahal GDP tumbuh 5% per tahun di periode yang sama.

Gimana bisa GDP naik tapi gaji turun?

GDP tumbuh stabil di 5%, tapi gaji riil justru menurun sejak 2018.
GDP tumbuh stabil di 5%, tapi gaji riil justru menurun sejak 2018.

Jawabannya ada di kualitas pertumbuhan. Menurut data Sakernas (Survey Angkatan Kerja Nasional), dari 18 juta lapangan kerja yang tercipta antara 2018-2024, lebih dari 80% ada di usaha rumah tangga kayak pedagang kaki lima, pekerja rumahan, warung kelontong. Cuma 2,6 juta yang berasal dari korporasi dan pabrik besar. Yang dari pemerintah? Kurang dari sejuta.

59% pekerja Indonesia masih bekerja secara informal tanpa asuransi, tanpa jaminan sosial, dengan gaji di bawah UMR. Riset UGM menemukan rata-rata gaji awal pekerja cuma sekitar Rp1,6 juta per bulan. Seratus dolar maks. Coba bayangin hidup sebulan dengan segitu di Jakarta.

Dan yang paling bikin khawatir: kelas menengah malah menyusut, dari sekitar 21,5% menjadi 18,8% populasi. Sedangkan, target Indonesia Emas 2045 oleh Bappenas, kelas menengah sebesar 80% populasi. Jarak antara realita dan target itu masih astronomical.

Psst, psst.. Sepertinya penurunan populasi kelas menengah ini worth untuk dibikin satu post terpisah.


Ketimpangan: 20 Tahun Data Gini Rasio

Sekarang kita lihat Gini Rasio (Koefisien Gini) yang dipakai buat mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran atau pendapatan penduduk dalam suatu populasi. Nilainya berkisar 0–1, di mana 0 berarti pemerataan sempurna dan 1 menunjukkan ketimpangan sempurna. Sederhananya, semakin tinggi Koefisien Gini nya, semakin lebar jarak antara si kaya dan si miskin di negara itu.

Saya tarik data Gini Ratio dari 2005 sampai 2025 supaya keliatan tren-nya dengan jelas.

Gini Ratio Indonesia 2005-2025: Naik tajam, lalu datar, baru sedikit turun.
Gini Ratio Indonesia 2005-2025: Naik tajam, lalu datar, baru sedikit turun.

Ceritanya ada tiga fase. Pertama (2005-2013): ketimpangan naik tajam dari 0,329 ke 0,413. Ini periode commodity boom dimana yang kaya makin kaya dari harga komoditas tinggi, sementara pekerja biasa cuma dapat remah-remahnya. Kedua (2014-2019): plateau. Ketimpangan berhenti naik, tapi juga nggak turun. Ketiga (2020-2025): sedikit turun ke 0,375 tapi ini “sedikit” banget. Data BPS Maret 2025 menunjukkan Gini di perkotaan masih 0,395.

Yang lebih menyedihkan: World Bank menyatakan bahwa 68,3% total penduduk Indonesia masih masuk kategori miskin menurut standar internasional. BPS pakai garis kemiskinan Rp582.932/kapita/bulan sekitar $1,19 per hari. Itu rendah banget bahkan untuk standar Indonesia sendiri.


Deindustrialisasi Prematur

Satu lagi yang jarang dibahas: share manufaktur terhadap GDP terus turun, dari sekitar 32% di 2002 ke 18,3% di 2025. Ini yang disebut ekonom sebagai “premature deindustrialization” dimana sektor manufaktur menyusut sebelum negara mencapai level pendapatan yang seharusnya. Di negara maju seperti Korea Selatan atau China, share manufaktur naik dulu ke 25-30% dan bertahan belasan tahun baru kemudian turun. Kita saat ini? Sudah turun duluan. Dan yang menggantikan bukan jasa bernilai tinggi (software, konsulting, keuangan), tapi jasa bernilai rendah (retail, transportasi, informal services).

Dari zaman orde baru tren kontribusi manufaktur ke GDP selalu meningkat. Indonesia disebut Macan Asia. Namun pas krisis 1998 turun sampe tahun 2000, dan naik lagi terus sampe 2002.

Intinya

Ekonomi tumbuh, tapi pertumbuhannya tidak berkualitas. Yang diuntungkan pemilik modal, bukan pekerja. Lapangan kerja banyak, tapi kebanyakan informal dengan gaji kecil. Manufaktur menyusut sebelum waktunya. Model pertumbuhan ini nggak sustainable untuk jangka panjang.


Utang: Semua Indikator Memburuk Bersamaan

Lalu sekarang kita bahas yang paling sering diomongin ibu-ibu dan bapak-bapak di tempat tongkrongannya, apalagi kalau bukan utang pemerintah 🙂

Saya coba bikin analisa dari 5 faktor untuk menilai kesehatan utang Indonesia, pakai data 2010-2026. Hasilnya? Semua bergerak ke arah yang salah.

1. Debt-to-GDP: Loncat Permanen

Rasio utang terhadap GDP, 2010-2026. Loncatan COVID tidak pernah kembali turun.
Rasio utang terhadap GDP, 2010-2026. Loncatan COVID tidak pernah kembali turun.

Rasio utang Indonesia terhadap GDP naik dari 26,5% di 2010 ke 40,46% di 2025. Total utang pemerintah Rp9,63 kuadriliun. Yang mengkhawatirkan: loncatan 10 poin persentase akibat COVID itu tidak pernah kembali turun. Kita sekarang tiga tahun pasca-COVID dan rasionya masih di atas 40%.

Menkeu sering membandingkan dengan Singapura (165%) atau Malaysia (64%). Tapi perbandingan ini menyesatkan karena utang Singapura seluruhnya dalam mata uang sendiri dan didukung sovereign wealth fund raksasa (GIC, Temasek). Kita nggak punya itu, meski iya benar hutang kita banyak pakai mata uang IDR (dari obligasi negara) yang ngejaga kita dari fluktuasi nilai Dollar ke Rupiah.

2. Tax Ratio: Ini Masalah Utamanya

Tax Ratio ini sederhananya seberapa bagus Indonesia narikin pajak (penerimaan negara) dibandingkan ke PDB (output ekonominya). Makin tinggi angkanya makin bagus.

Tax ratio Indonesia terus turun, sementara rata-rata ASEAN stabil di 14,3%.
Tax ratio Indonesia terus turun, sementara rata-rata ASEAN stabil di 14,3%.

Ini chart bikin geleng-geleng kepala. Tax ratio Indonesia turun dari 12,2% ke 10%. Rata-rata ASEAN? 14,3%. Asia-Pasifik? 19,6%. Kita 4 poin di bawah tetangga sendiri dan gap-nya makin lebar, bukan makin sempit.

Di semester pertama 2025, tax ratio anjlok ke 8,42%. Penerimaan pajak cuma Rp978,3 triliun, atau 39,3% dari target APBN. World Bank memproyeksikan tax ratio bakal stuck di 10% sampai 2027.

Logikanya sederhana: kita berutang untuk pembangunan, harapannya ekonomi tumbuh, tapi sistem pajak dari pertumbuhan ekonomi itu ga maksimal jadi penerimaan negara malah nggak balik. Kayak nuangin air ke ember bocor.

3. Kemampuan Bayar Utang: Sudah Masuk Zona Bahaya

Pembayaran bunga sudah melewati 20% dari total pendapatan pemerintah.
Pembayaran bunga sudah melewati 20% dari total pendapatan pemerintah.

Tahun 2010, bunga utang “cuma” makan 7,2% dari pendapatan negara. Sekarang? Lebih dari 20%. Artinya dari setiap 5 rupiah yang dipungut pemerintah lewat pajak, satu rupiah langsung pergi untuk bayar bunga utang. Belum bayar pokoknya, baru bunganya aja.

Sekarang, kita liat indikator Debt Service dimana indikator ini ngitung total beban utang yaitu bunga plus cicilan pokok yang jatuh tempo lalu dibandingkan ke seluruh APBN. Ini kasih gambaran yang lebih lengkap tentang seberapa besar utang memakan ruang fiskal kita.

Debt service (% APBN) dan primary balance, 2010-2026. Lebih dari sepertiga anggaran kini untuk bayar utang.
Debt service (% APBN) dan primary balance, 2010-2026. Lebih dari sepertiga anggaran kini untuk bayar utang.

Di 2010, Debt Service makan sekitar 18% dari total APBN. Masih wajar karena masih ada 82% buat pembangunan dan belanja negara lainnya. Tapi angka ini naik terus, hampir tanpa jeda. Di 2021, kita melewati batas sepertiga anggaran (33%). Dan sekarang di 2025, angkanya sudah 36% di Rp1.300 triliun lebih. Untuk 2026, diproyeksikan naik lagi ke sekitar 38%.

Artinya dari setiap Rp100 yang pemerintah belanjakan, Rp36-38 langsung pergi untuk bayar utang.

Dan yang bikin situasinya makin buruk: primary balance kita sudah defisit. Apa itu primary balance? Ini selisih antara pendapatan negara dan belanja negara sebelum memperhitungkan pembayaran bunga. Kalau primary balance defisit, artinya pendapatan kita nggak cukup bahkan untuk belanja non-utang. Defisit primer yang awalnya diproyeksikan Rp63,3 triliun sudah direvisi naik jadi Rp109,9 triliun. Artinya: kita sekarang ngutang baru untuk bayar bunga utang lama. Ini yang orang bilang “gali lubang tutup lubang” dan kalau dibiarkan, lubangnya makin lama makin dalam.

4. r minus g: Hampir Terbalik

Dalam konteks ekonomi, “r minus g” merujuk ke selisih antara tingkat suku bunga riil (r) dan tingkat pertumbuhan ekonomi riil (g). Istilah ini sering digunakan untuk menilai sustainability utang suatu negara

Selisih antara suku bunga efektif dan pertumbuhan nominal GDP, 2010-2026.
Selisih antara suku bunga efektif dan pertumbuhan nominal GDP, 2010-2026.

Selama bunga efektif utang (r) lebih rendah dari pertumbuhan nominal GDP (g), rasio utang secara alami stabil atau turun. Kalau r lebih tinggi dari g? Utang spiral ke atas secara otomatis, bahkan kalau pemerintah menjalankan anggaran berimbang sekalipun.

Di 2022, cushion-nya tebal: ~5%. Di 2025, tinggal -0,3% yang oleh INFID disebut “fragile zone threshold.” Di 2026, dengan perang Iran mendorong inflasi dan BI nggak bisa potong suku bunga, diferensial ini diproyeksikan berbalik positif (artinya kalau positif itu jelek untuk kita) untuk pertama kalinya sejak COVID.

5. ICOR – Hasil investasi utang yang dipertanyakan

Sebelum masuk datanya, sedikit penjelasan dulu. ICOR itu singkatan dari Incremental Capital-Output Ratio. Konsepnya sederhana: berapa rupiah investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah pertumbuhan GDP? Kalau ICOR-nya 3, artinya butuh investasi Rp3 untuk menambah GDP Rp1. Kalau ICOR-nya 6? Ya butuh dua kali lipat investasi untuk hasil yang sama.

Kenapa ini penting banget? Karena pemerintah kita berutang untuk investasi untuk bangun infrastruktur, bangun smelter, bangun IKN. Kalau investasinya efisien (ICOR rendah), utang itu “membayar dirinya sendiri” lewat pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan. Tapi kalau ICOR tinggi? Artinya kita ngutang banyak tapi hasilnya sedikit. Uangnya bocor di tengah jalan, entah karena proyek yang salah sasaran, birokrasi yang lambat, atau ya… iykyk.

Untuk negara berkembang, ICOR yang sehat itu di kisaran 3-4. Korea Selatan dan China di masa pertumbuhan cepatnya ada di angka itu. Indonesia? Stuck di sekitar 6 sejak 2013. Nggak membaik sama sekali meskipun belanja infrastruktur era Jokowi sangat masif.

ICOR (efisiensi investasi) vs pertumbuhan GDP, 2010-2026. ICOR stuck di atas 6 sejak 2016 (data BPS), jauh di atas level optimal 3-4.
ICOR (efisiensi investasi) vs pertumbuhan GDP, 2010-2026. ICOR stuck di atas 6 sejak 2013 (data BPS), jauh di atas level optimal 3-4.

Artinya secara praktis: di 2010-2012, ICOR kita masih 4,8-5,5, nggak ideal tapi masih oke. Sekarang di 6,0-6,1. Setiap tambahan satu triliun rupiah investasi menghasilkan pertumbuhan GDP yang lebih kecil dibanding satu dekade lalu. Kalau pemerintah menargetkan pertumbuhan 6-7% seperti visi Indonesia Emas 2045, maka rasio investasi terhadap GDP harus di 41-47%. Sementara sekarang? Cuma 29,9%. Matematikanya nggak ketemu kecuali ICOR turun drastis, target pertumbuhan itu nggak realistis.

Implikasi

Semua indikator utang bergerak ke arah yang salah secara bersamaan. Ini bukan soal satu angka yang jelek, ini soal semua angka yang memburuk. Utang naik, pajak turun, bunga membengkak, margin keselamatan nyaris habis, dan defisit primer sudah terjadi. Kalau ada satu shock lagi katakanlah perang Iran berkepanjangan atau downgrade rating maka ruang fiskal kita sudah nggak cukup untuk merespon.


Fitch & Moody’s: Lampu Kuning Sudah Menyala

Dalam rentang kurang dari sebulan, dua lembaga rating besar dunia menurunkan outlook Indonesia ke negatif.

Moody’s (5 Februari 2026) memotong outlook Baa2 dari stable ke negative, menyebut “risks to policy effectiveness and signs of weakening governance.” Danantara jadi sorotan khusus karena otoritasnya atas aset BUMN senilai $900 miliar (60% GDP) dinilai menimbulkan risiko contingent liability.

Fitch (4 Maret 2026) mengikuti dengan memotong outlook BBB. Alasannya lebih detail: sentralisasi kebijakan, potensi breach batas defisit 3%, ekspansi mandat BI untuk mencakup pertumbuhan ekonomi, revenue cuma 13,3% GDP versus median negara BBB di 25,5%, dan skor governance di persentil ke-44 versus median BBB di persentil ke-56.

Pertanyaannya: seberapa sering negative outlook berakhir jadi downgrade beneran?

Berdasarkan data historis, sekitar 40-50% dari negative outlook level BBB berakhir dengan downgrade dalam 12-18 bulan. Contoh nyata:

Negara Dari Ke Durasi Penyebab
Brasil (2015) BBB Junk (BB+) 18 bulan Fiskal blowout, Petrobras
Afrika Selatan (2017) BBB- Junk (BB+) 16 bulan State capture, Eskom
Turki (2016) Baa3 Junk (Ba1) 15 bulan Sentralisasi, Bank Sentral tidak independen

Pola yang sama di ketiga negara itu: pemerintah menolak koreksi dan malah memperdalam kebijakan yang jadi penyebab warning. Negara yang berhasil reversal (Kolombia, India) justru langsung ambil tindakan fiskal korektif.

Sinyal dari pemerintah Indonesia sejauh ini? Menkeu menyatakan belum akan merevisi APBN. DPR sedang membahas revisi UU Keuangan Negara (yang bisa mengubah batas defisit 3%). Kemandirian Bank Indonesia dikhawatirkan berkurang karena keponakan Presiden disitu. Kelihatannya lebih mirip jalur Brasil/Turki daripada jalur Kolombia/India. Kabar positif paling terbaru, dana MBG dikurangin jadi untuk 4 hari seminggu biar bisa hemat APBN Rp 50 T per tahun.


APBN 2026: Semua Asumsi Meleset

Perbandingan asumsi APBN 2026 vs realita Mei 2026.
Perbandingan asumsi APBN 2026 vs realita Mei 2026.

Ini yang bikin saya paling frustrasi. Setiap asumsi makro di APBN 2026 sudah meleset:

Asumsi APBN 2026 Realita (Mei 2026) Selisih
Harga minyak (ICP) $70/barel $101,8/barel +$31,8 (+45%)
Kurs USD/IDR Rp16.500 Rp17.315 +Rp815 (5% lebih lemah)
Pertumbuhan GDP 5,4% 5,0-5,1% -0,3-0,4%
Target defisit 2,68% GDP Risiko >3,6% GDP +0,9% (tembus batas legal 3%)

Menurut Nota Keuangan APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak $1/barel menambah pendapatan Rp3,5 triliun tapi menambah belanja Rp10,3 triliun. Jadi setiap $1 kenaikan = Rp6,8 triliun tambahan defisit. Dengan harga minyak di $101,8, itu berarti Rp216 triliun tekanan defisit tambahan.

Simulasi pemerintah sendiri menunjukkan: kalau rata-rata minyak di $92/barel sepanjang tahun, defisit bisa melebar ke 3,6% GDP menembus batas legal 3%.

Respons pemerintah? Menkeu bilang rata-rata year-to-date masih di bawah asumsi (ini backward-looking karena Januari-Februari minyak masih rendah). Belum ada revisi APBN. Belum ada reformasi pajak darurat. Satu-satunya opsi yang dibahas: naikkan harga BBM. Yang artinya membebankan biaya ke masyarakat yang gajinya sudah turun 1,1% per tahun selama 6 tahun.


Indonesia Emas 2045: Matematikanya Perlu Dihitung Ulang

Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan GDP per kapita $25.000, menjadi 5 besar ekonomi dunia, dan kelas menengah 80% populasi. Sekarang? GDP per kapita kita sekitar $5.200 dan kelas menengah 18,8%.

McKinsey menghitung: untuk mencapai high-income status di 2045, Indonesia butuh pertumbuhan GDP 5,4-5,5% per tahun dengan akselerasi produktivitas 1,6 kali lipat. Pemerintah sendiri menargetkan 6-7%.

Kenyataannya? Pertumbuhan stuck di 5,0-5,1%. Produktivitas malah melambat dari 3%/tahun ke sekitar 2%/tahun. Share manufaktur turun (harusnya naik ke 28%). Tax ratio di separuh level yang dibutuhkan. 93% perusahaan masih informal.

Chief economist World Bank, Indermit Gill, blak-blakan bilang: 

“For middle-income countries to have high income in decades rather than centuries, it would need a miracle.”

Indermit Gill, Chief Economist, World Bank

Satu analisis matematis independen menemukan bahwa 7 dari 8 janji terukur dalam visi Indonesia Emas 2045 secara matematis tidak bisa tercapai dengan laju pertumbuhan saat ini.

Window demografis Indonesia (periode di mana rasio penduduk usia produktif paling menguntungkan) diperkirakan menutup sekitar 2035-2040. Artinya kita cuma punya waktu 10 tahun lagi untuk melakukan transformasi struktural yang dibutuhkan. Kalau nggak, tailwind demografi berubah jadi headwind (populasi menua, dependency ratio naik).

Dengan trajectory sekarang, Indonesia kemungkinan akan mencapai sekitar $10.000-12.000 GDP per kapita di 2045 menjadi solid upper-middle-income, tapi masih jauh dari target $25.000.


Jadi, Separah Apa?

Scorecard lengkap: indikator positif vs negatif.
Scorecard lengkap: indikator positif vs negatif.

Indonesia belum krisis. Tapi trajectory-nya jelas memburuk di hampir semua dimensi yang bisa diukur.

Analogi yang menurut saya paling tepat: Indonesia itu kayak mobil dengan mesin bagus tapi rem-nya mulai blong. Mesinnya jalan (GDP 5%+, demografi oke, FDI mengalir, perbankan sehat). Tapi chasis-nya melemah (fiskal, pajak, governance, kualitas institusi). Dan sopirnya malah ngebut, bukannya bawa ke bengkel buat benerin rem.

Pertanyaan paling krusial sekarang: apakah pemerintahan Prabowo akan merespons warning dari Fitch dan Moody’s dengan tindakan korektif (jalur Kolombia/India – reversal)? Atau malah melanjutkan kebijakan yang memicu warning tersebut (jalur Brasil/Afrika Selatan/Turki – downgrade)?

Clock-nya sudah berjalan. 12-18 bulan dari Februari/Maret 2026. Sinyal-sinyal yang ada sekarang seperti Menkeu yang dismissive, rencana revisi UU Keuangan Negara, ekspansi mandat BI, tidak ada revisi APBN, sayangnya lebih mengarah ke jalur yang kedua.

Tapi 12-18 bulan itu cukup waktu untuk berubah. Kalau ada kemauan politik dan tata kelola anggaran yang tepat!

Pesan Penutup

Analisis ini bukan soal pesimisme atau optimisme. Ini soal membaca data apa adanya. Data menunjukkan bahwa Indonesia punya fondasi yang kuat tapi trajectory yang mengkhawatirkan. Kedua hal itu bisa benar bersamaan. Yang menentukan hasilnya adalah respons kebijakan dan itu ada di tangan para pengambil keputusan.

Sebagai warga negara dan pelaku ekonomi, tugas kita adalah memahami situasinya, bukan menutup mata. Karena kalau rem-nya beneran blong nanti, kita semua yang ada di dalam mobil.

Disclaimer:

Tulisan ini adalah analisis independen dan bukan merupakan ajakan jual beli efek atau rekomendasi investasi. Penulis bertanggung jawab penuh atas analisis dan kesimpulan yang disajikan. Semua data bersumber dari publikasi dan database yang tersedia untuk publik.



Sumber & Referensi

  1. World Bank, Indonesia Economic Prospects Dec 2025
  2. IMF, Article IV Consultation with Indonesia, Jan 2026
  3. BPS Indonesia, Gini Ratio March 2025
  4. OECD, Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2025: Indonesia
  5. Fitch Ratings, Indonesia BBB Negative Outlook, Mar 2026
  6. Moody’s, Indonesia Baa2 Negative Outlook, Feb 2026
  7. INFID, Debt Pressure Puts Indonesia’s Debt Sustainability in Fragile Zone, Oct 2025
  8. McKinsey Global Institute, Propelling Indonesia’s Productivity, Apr 2025
  9. Jakarta Globe, Indonesia’s Debt Ratio Hits 40.46% in 2025, Feb 2026
  10. East Asia Forum, Indonesia’s Jobs Boom Is a Story of Quantity Not Quality, Jul 2025
  11. UGM, Informal Employment and Inadequate Wages, Jan 2026
  12. Trading Economics, Indonesia GDP Annual Growth Rate, Feb 2026
  13. CEIC Data, Indonesia Government Debt & Tax Revenue
  14. MUC Consulting, Early 2025 Tax Ratio Drops to 8.42%
  15. MUC Consulting, World Bank: Indonesia’s Tax Ratio Predicted to Remain at 10% Until 2027
  16. Databoks Katadata, Oil Price vs APBN Assumptions, Mar 2026
  17. Kompas, Lonjakan Harga Minyak Uji Ketahanan APBN, Mar 2026
  18. NEXT Indonesia Center / DDTCNews, APBN Resilience Analysis, Mar 2026
  19. Bank Indonesia, Press Releases 2026
  20. ASEAN Briefing, Indonesia Economic Indicators 2025
  21. Cekindo, Indonesia Economic Outlook 2026
  22. Danantara Monitor, Moody’s Cites Danantara Governance, Feb 2026
  23. Asia News Network, Miracle Needed for Indonesia to Become Advanced Economy by 2045: World Bank
  24. Saka Sora Walesa, Indonesia Emas 2045: Is It Even Possible? Mathematical Analysis
  25. Wikipedia, Golden Indonesia 2045 Vision
  26. IDN Financials, MBG akan dipangkas lagi demi hemat APBN Rp50 triliun per tahun, April 2026

Comments

2 responses to “Ekonomi Indonesia 2026: Mesin Kuat, Rem Blong?”

  1. Andreas avatar
    Andreas

    Keren dan lengkap sekali ulasan nya. Keep it up!!

    1. Terima kasih, Pak.

Leave a Reply to Andreas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *